Tuesday, February 8, 2011

Dirimu Lebih Berharga Daripada Apa Yang Kaumiliki. Percayalah!

(Bab Keempat dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)


Aku cuma punya sedikit barang sekarang.

Karena aku jauh lebih berharga daripada merk arlojiku, logo di sepatuku, atau nama mobilku. Aku percaya bahwa jika dalam jiwaku aku menghormati dan menghargai diriku sendiri, orang-orang di sekitarku akan merasakannya, dan mereka juga bakalan menghargai dan menghormatiku, tak peduli apakah aku memakai setelan Armani atau tidak.

Bila aku memerlukan celana jins baru, aku membelinya di pasar. Beneran! Celana tak bermerk (agak membingungkan juga istilah ini, karena semua yang dijual pasti bermerk) terakhir yang aku beli harganya tidak lebih dari Rp 75.000,-. Ya, aku tahu sih, memang kelihatannya tidak sebagus Levi's atau Diesel, tapi aku yakin kasih sayang dan rasa hormat orang-orang kepadaku tidak berkurang karenanya. Penghargaan yang mereka berikan padaku juga tidak lebih kecil dibandingkan dengan yang mereka berikan pada orang yang mengenakan jins seharga Rp 500.000,-.

Aku mengendarai sebuah mobil "praktis" yang tidak bakalan dilirik orang saking biasanya. Mobilku tidak punya power locks, power windows, ataupun power mirrors. Tapi aku bisa memarkirnya di mana pun aku mau, tanpa rasa khawatir akan kecurian, kena tabrak, atau dirusak orang. Aku juga tidak akan kena serangan jantung seandainya mobilku lecet atau penyok, karena bagiku itu cuma mobil. Fungsinya adalah membawaku dari titik A ke titik B.Titik!

Aku tidak percaya pada mobil mewah. Buatku membeli mobil seharga Rp 600.000.000,- adalah sebuah ketidakadilan atas diri seseorang. Kalau soal kesenjangan sosial atau ketidaksolideran pada kaum miskin biarlah itu urusan para sosialis dan moralis untuk membahasnya. Maksudku, membeli sebuah mobil mewah--atau barang mewah lainnya--adalah sebuah ketidakadilan terhadap dirimu sendiri. Coba pikirkan. Bukankah kalau dipikir-pikir, mobil mewah cuma menambah kerumitan dan beban dalam hidupmu--dan bukankah hidup ini sudah cukup rumit? Jadi, kenapa harus diperumit lagi?

Sebelum kamu membeli sesuatu, apa pun itu, pertimbangkan seberapa banyak energi, biaya, dan waktu yang nantinya harus kamu keluarkan untuk merawatnya. Dan membersihkannya. Juga mengasuransikannya. Lalu menjaganya. Belum lagi memperbaikinya.

Percayalah.

Dirimu jauh lebih berharga dari apa yang kamu miliki.


Apakah kamu merasakan kebutuhan untuk menarik perhatian orang lain dengan apa yang kaukenakan?

Apakah kamu merasakan keterikatan pada hal-hal materiil?

Temukan orang-orang yang kamu tahu tidak punya keterikatan pada hal-hal materiil tapi selalu terlihat bahagia, penuh cinta, dan merdeka. Bercakap-cakaplah dengan mereka. Gali tips-tips dari mereka, dan biarkan dirimu terinspirasi oleh mereka....

Sunday, February 6, 2011

Rasakan Kenikmatan Yang Lebih Besar Dalam Hidup Yang Lebih Hemat

(Bab Kedua dari buku SIMPLIFY  And Live The Good Life karya Bo Sanchez)

Ada dua cara untuk memuaskan diri sendiri:
Pertama dengan mendapatkan lebih banyak.
Satu lagi adalah dengan mengharapkan lebih sedikit. – G.K. Chesterton



Nikmatilah keluarbiasaan dalam hal-hal biasa! Karena jika kamu bisa mengembangkan kemampuan untuk menarik seluruh kegembiraan yang ditawarkan oleh kehidupan, kamu tidak lagi memerlukan hiburan-hiburan mewah.

Aku tidak malu untuk bilang bahwa memandangi awan putih yang berarak di langit biru dari balik jendela yang terbuka adalah hiburan kelas kakap untukku. Melakukannya lima menit saja bisa memperbaiki mood-ku sepanjang hari.

Sebagian orang memperoleh kenikmatannya dengan makan malam di restoran-restoran mewah, berwisata keliling Eropa, atau mempunyai perangkat home-theater mutakhir di rumah. Aku memilih cara yang lebih sederhana: Jika aku bisa berada di samping istriku, atau berjalan-jalan menikmati keheninngan malam di bawah kanopi langit yang penuh bintang-bintang, atau bermain bersama anakku, atau membaca buku yang bagus di rumah, atau ngobrol bareng teman-teman sambil makan pizza, aku sudah menganggap diriku sangat beruntung.

Fokuslah pada apa yang kamu punyai, bukan pada apa yang tidak kamu punyai.
Karena kepuasan tidak berasal dari mendapatkan apa yang kamu inginkan, melainkan dari menginginkan apa yang sudah kamu punyai.

Pikirkan, apa yang sudah ada padamu yang telah kamu abaikan? Buatlah daftar 50 berkat yang sudah kamu nikmati hari ini. Jangan berhenti sebelum sampai pada angka 50. Semoga berhasil....

Saturday, February 5, 2011

Hiduplah Dari Inti Keberadaanmu

(Bab Pertama dari buku SIMPLIFY And Live the Good Live karya Bo Sanchez)


Tidaklah cukup jika kamu cuma sibuk. Permasalahannya adalah apa yang kamu sibukkan? -- Henry David Thoreau

Kebahagiaan tidak bisa ditemukan di luar dirimu. Percaya atau tidak, kebahagiaan tidak datang dari mobil mewah, pakaian mahal, duit melimpah, atau dengan berwisata ke Karibia. Kebahagiaan tidak terlalu jauh letaknya. Dia ada di dalam.

Tapi bagaimana mungkin kamu bisa menemukannya, jika kamu tidak punyakesederhanaan waktu dan ruang untuk menemukan hal-hal terpenting dalam hidupmu? Bagaimana kamu bisa menelusuri kedalaman jiwamu, kalau kamu terlalu sibuk memikirkan bagaimana menampilkan dirimu supaya dikagumi orang lain, menimbun kekayaan, mempertahankan harta milikmu, dan membayar utang-utangmu?

Kesederhanaan juga BUKAN masalah eksternal, seperti: hidup di gubuk reot, makan sisa-sisa masakan kemarin, atau berpakaian karung goni.

Definisi terbaik dari kesederhanaan yang pernah aku baca berasal dari buku Janet Luhr, The Simple Living Guide. Di situ dia mengatakan, kesederhanaan adalah hidup dari inti keberadaanmu.

Bingung? Sama. Hahaha....

Begini....

Aku yakin bahwa kesederhanaan berarti memiliki waktu dan tempat untuk merangkul semua hal penting dalam hidupmu. Ini berarti pula memiliki waktu luang untuk menikmatinya, memiliki kebebasan untuk membanggakannya, dan memiliki kekuatan untuk hidup olehnya.

Sepanjang perjalanan hidupmu, kamu bakalan mendapati bahwa ternyata hal-hal terpenting dalam hidup bukanlah benda-benda, melainkan orang-orang yang telah menjadi bagian dalam hidupmu. Tapi, tentu saja, adalah tugasmu sendiri untuk menemukannya.

Sudahilah kedangkalan.

Mulailah hidup dari inti keberadaanmu. Mulailah dengan pertanyaan, apakah "inti"-mu? Apakah hal-hal yang paling penting dalam hidupmu saat ini? Apakah kamu mengizinkan "inti" itu mengarahkanmu dan memberimu kekuatan dalam keputusan dan lakumu sehari-hari?

Friday, February 4, 2011

Hiduplah Sederhana—Jika Ingin Hidup Berkelimpahan...

(Kata pengantar dari Buku SIMPLIFY And Live The Good Life dari Bo Sanchez)


Orang tuaku menghirup kesederhanaan.

Oksigen juga, sih…. Tapi semuanya kan juga begitu!

Ayah adalah seorang assistant vice president di sebuah perusahaan terkemuka, toh aku tidak merasa jadi anak orang kaya. Orang tuaku punya aturan bahwa hidup harus dijalani di bawah kemampuan mereka. Anak seorang jutawan bisa pergi ke mana-mana dengan sebuah Mercy mulus; aku harus merasa puas mengendarai Toyota kami yang umurnya sudah 16 tahun, yang suara mesinnya supermegaberisik.  Anak-anak orang kaya diantar-jemput oleh chauffeur (bukan sekadar sopir) ke sekolah, sedangkan aku sejak kelas 3 SD harus selalu naik jeepney, kendaraan umum khas Filipina yang ngejreng-ngejreng itu—duduk, berdiri, ataupun bergelantungan bagaikan bendera yang berkibar-kibar oleh angin kencang.

Orang-orang kaya makan mewah setiap hari. Buatku, kemewahan kuliner yang bisa aku dapatkan adalah saat Ibu membelikan Coke™ untuk makan siang kami di hari Minggu—satu-satunya kesempatan kami menikmati minuman populer itu. Benar. Aku nggak bohong!

Anak-anak jutawan mengenakan pakaian impor dari Amerika, Inggris, atau Prancis. Aku mengenakan merk-merk lokal dari Avenida, Escolta, dan Pasay.

Rumah-rumah gedong kepunyaan orang kaya dan terkenal selalu terlihat seperti showroom barang-barang antik, lengkap dengan guci-guci dari Mesir yang konon berasal dari zaman Nefertiti. Dengar-dengar, salah satu dari vas bunga raksasa itu harganya sebanding dengah sebuah rumah! Tentu saja, kami nggak mau kalah. Kami juga punya vas bunga di rumah. Kalau pengetahuan arkeologiku cukup mumpuni, rasanya vas bunga kami berasal dari zaman Nescafe.

Rumah-rumah mereka punya kamar bermain dengan Barbie dan Power Rangers seukuran manusia. Sedangkan satu-satunya cara aku bermain dengan mainan mahal adalah dengan mengaguminya dari etalase toko dan menggunakan imajinasiku sepuas-puasnya. Dengan cara itu, aku bisa memiliki semua mainan di seluruh dunia.

Kamu bakalan kaget dengan apa yang akan aku bilang, bahwa dengan semuanya itu, tidak pernah sekalipun sepanjang ingatanku aku merasa hidupku sengsara.

Begini alasannya.

Aku selalu ingat saat Ayah pulang setiap malam dari kantornya, kami selalu jogging bersama-sama—memutari mobil tua kami yang terparkir di halaman. (Ayah bilang, toh kami tidak sedang berlomba di olimpiade) Kemudian, aku akan duduk di pangkuannya, dan kami mulai bercakap-cakap tentang segala permasalahan yang ada di alam semesta ini. Setelah makan malam, kami akan membaca komik bersama-sama. Favoritku adalah Tarzan, sampai aku melewati masa puber. Setelah itu, hehehe…. Favoritku adalah Jane.

Hampir setiap Sabtu siang adalah waktu ayah-dan-anak. Kami akan berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, di mana Ayah akan membelikanku hotdog. Lalu kami akan kembali pulang dengan membawa sedikit oleh-oleh untuk Ibu, biasanya sebatang cokelat kesukaannya. Tentu saja, aku selalu minta beberapa gigit pada Ibu.

Aku pikir, kebersamaan dengan Ayah dan ibu adalah satu-satunya hal yang diinginkan oleh hati seorang anak kecil sepertiku.

Dan aku mendapatkannya. Setiap hari.

*****

Aku percaya bahwa Tuhan memutuskan untuk menuliskan “peta kebahagiaan” dalam selembar perkamen kesederhanaan—seperti sebuah peta harta karun yang tertulis pada kertas cokelat yang kumal. Akibatnya, banyak orang yang mengabaikan peta itu, dan lebih tertarik pada peta-peta lain yang lebih mengkilap, bersih, dan full-color. Tapi jika mereka mengikuti peta-peta ini, pada akhirnya mereka akan kecapaian, seperti seekor anjing yang mengejar ekornya sendiri.

Aku punya sebuah saran yang radikal.

Hiduplah sederhana.

Hiduplah sederhana, karena kamu ingin menemukan kedalaman jiwamu.

Hiduplah sederhana, karena kamu ingin mulai hidup berkelimpahan.

Hiduplah sederhana, karena kamu ingin mencintai dari dalam hati yang murni.

Namun ingatlah bahwa kesederhanaan hanya langkah pertama dari perjalanan ini. Memiliki peta harta karun, mengingat-ingat isinya, mem-fotokopinya ribuan kali, dan menyimpannya dalam brankas tidak akan membuatmu menemukan emasnya. Kamu masih perlu mengarungi samudra, mendaki puncak-puncak gunung, melintasi lembah-lembah, dan menelusuri gua-gua.

Kesederhanaan akan menunjukkan padamu di mana, apa, dan siapa emas dalam hidupmu. Begitu kamu mengetahui emasmu, permainannya baru dimulai.

Apakah kamu akan menjaga emasmu?

Orang tuaku mengetahui apa emasnya: (1) mereka berdua, (2) keenam anak mereka, dan (3) iman mereka. Mereka mencoba hidup dengan murni supaya bisa meluangkan waktu untuk hal-hal paling penting dalam hidup mereka.

Mereka tidak menyibukkan diri dengan membeli rumah yang lebih besar, karena itu berarti mereka harus bekerja lebih keras untuk membayar cicilan bulanan, dengan bekerja lembur atau bekerja dobel. Lalu siapa yang akan pergi jogging dengan Bo kecil setiap malam? Siapa yang akan membacakan Tarzan untuknya? Mereka tidak membebani diri dengan membeli sebuah BMW (bukan Bebek Merah Warnanya, ya…), karena itu akan menambah pikiran mereka tentang biaya perawatan dan tagihan-tagihannya. Lagipula, berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan setiap Sabtu siang bersama anaknya membuat Ayah cukup bugar, dan membuat Bo kecil merasa istimewa.

Salah satu kenikmatan hatiku adalah melihat Ayah dan Ibu di kamar mereka di malam hari, setelah doa malam kami sekeluarga. Lampunya sudah dimatikan, tapi aku masih bisa melihat bayangan Ayah duduk di kursi tuanya dan Ibu berdiri di belakangnya, memijit pundak Ayah dengan lembut. Aku bisa mendengar percakapan mereka tentang apa saja yang terjadi di hari itu. Bahkan sebagai seorang anak kecil, aku bisa merasakan keheningan yang menenangkan dalam kebersamaan mereka. Pertanyaanku sekarang: Bisakah mereka melakukan ritual kasih sayang itu setiap malam dan memperteguh pernikahan mereka, seandainya mereka sibuk memikirkan cara membayar baju-baju buatan desainer ternama yang mereka dan anak-anak mereka pakai, atau jika mereka mengkhawatirkan cicilan bulanan untuk pembelian perabotan-perabotan hi-tech yang sebenarnya tidak terlalu mereka perlukan?

Aku yakin mereka tidak bisa.

Dan aku sudah membuat keputusan: Aku juga tidak menginginkan hidup yang seperti itu.

Maka adalah sebuah kehormatan bagiku untuk membawamu ke puncak-puncak dan lembah-lembah dalam perjalanan ini menuju kesederhanaan yang bahagia.


(bersambung)

Gambar: Google

Thursday, February 3, 2011

5 Kiat Hidup Seimbang

Hidup yang seimbang sangatlah penting untuk efektivitas pribadi, kedamaian jiwa, dan kesejahteraan hidup. Baik kita bekerja, bersekolah, purnakarya, atau apa pun juga, kita semua mempunyai tanggung jawab. Selalu ada seseorang untuk dihadapi, atau pertanyaan untuk dijawab. Ada hal-hal yang ingin kita lakukan, dan ada hal-hal yang harus kita kerjakan.

Tantangannya adalah menyeimbangkan antara hal-hal yang harus kita kerjakan dengan hal-hal yang ingin kita lakukan. Hal ini tidak selamanya gampang. Kegagalan menurunkan tingkat stres dan menjaga keseimbangan hidup kita bisa berdampak buruk pada kesehatan raga dan/atau jiwa kita.

Di bawah ini adalah kiat-kiat untuk hidup seimbang:


1. Jaga dan rawatlah diri Anda.

Anda tidak bisa merampungkan apa pun juga jika tidak sehat. Ambil cukup waktu untuk beristirahat, berolah raga, dan makan dengan benar. Kebanyakan orang berpikir bahwa mereka bisa membakar lilin pada kedua ujungnya. Mereka makan junk food, berolah raga sedikit, dan bekerja sekuat tenaga. Anda mungkin bisa lolos dari konsekuensi hal ini jika Anda masih sangat muda, namun pasti ada satu saat ketika gaya hidup seperti ini menuai akibatnya. Kemungkinan terbesar adalah kelelahan kronis.

Anda tentu ingin menyisihkan waktu setiap hari untuk aktivitas yang bisa Anda nikmati, seperti berjalan-jalan, berolah raga, ataupun mendengarkan musik. Atau cuma sekadar melemaskan otot-otot setelah seharian sibuk bekerja, dengan membaca, bermeditasi, atau berendam air hangat.


2. Kenalilah prioritas hidup Anda.

Keseimbangan bukan berarti melakukan semua yang Anda inginkan. Periksalah nilai-nilai hidup Anda, putuskan hal-hal yang terpenting buat Anda, kemudian buatlah batasan-batasannya. Mungkin saat ini Anda tengah meniti karier, sedang mulai membentuk sebuah keluarga, atau sedang bersekolah. Tergantung pada tahapan hidup Anda, fokus dan energi Anda setiap waktu akan berubah-ubah. Supaya tidak kewalahan, cobalah untuk tidak menangani proyek-proyek besar dalam hidup Anda pada waktu yang bersamaan. Mungkin merencanakan sebuah pesta pernikahan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan saat Anda sedang mempersiapkan sidang tesis Anda. Begitu pula dengan merencanakan berkeluarga saat Anda merasa tidak yakin pada arah karier Anda—atau arah hubungan Anda. Tidak mengetahui secara tepat apa yang Anda inginkan dan mencoba melakukan segala sesuatu secara bersamaan adalah resep yang ampuh untuk hidup yang timpang—dan bukan hidup yang seimbang. Jangan berusaha menggigit lebih daripada yang bisa Anda kunyah.


3. Ciptakan pola pikir efisien.

Hiduplah lebih terorganisasi, dan buatlah perencanaan. Luangkan waktu di awal pekan untuk memperkirakan hal-hal yang perlu Anda kerjakan. Buatlah to-do list dalam sebuah agenda atau kalender untuk janji-janji yang harus Anda tepati, ujian-ujian yang harus Anda persiapkan, atau rapat-rapat yang harus Anda hadiri. Pastikan untuk menyertakan rekreasi dan waktu luang untuk diri dan keluarga Anda juga dalam to-do list itu. Meluangkan waktu untuk keluarga dan teman-teman akan mengisi ulang baterai Anda dan akan membuat Anda lebih segar dan efisien dalam jangka panjang.


4. Fleksibel-lah untuk hal-hal yang tak terduga.

Daripada stres dan bersungut-sungut, biarkan diri Anda bergulir saja seiring dengan setiap hantaman yang Anda hadapi, jika sesuatu yang berada di luar kendali Anda terjadi. Anda mungkin terjebak dalam kemacetan lalu lintas, komputer Anda crash saat Anda tengah menggunakannya mengolah data, atau anak Anda kena cacar air. Hal-hal buruk bisa terjadi. Kita semua pernah mengalami hal-hal tak terduga semacam itu. Jika Anda bisa menerima bahwa segala sesuatu bisa terjadi setiap saat, dampaknya akan berkurang pada kemajuan langkah Anda. Maka fleksibel-lah dalam mengubah rencana permainan Anda.

Perhatikan pula, bahwa kadangkala keseimbangan hidup tidak bisa tercapai. Sebagai contoh, Anda bisa mengalami krisis dalam keluarga atau karier, yang memerlukan penanganan segera dan perhatian penuh dari Anda. Waktu dan tenaga Anda dibutuhkan secara total untuk menyelesaikannya. Jika hal ini terjadi, lakukan segala sesuatu yang diperlukan—dan bila keadaan sudah kembali normal, luangkan waktu untuk menyegarkan diri dan meremajakan semangat Anda kembali.


5. Jagalah sikap mental positif.

Awali setiap hari dengan bertekad melakukan yang terbaik dan menjadikannya yang terbaik. Kadangkala sebuah hari tidak berjalan semulus rencana kita, namun setidaknya akan lebih mudah dijalani jika kita berpegang pada perspektif yang positif. Hidup dengan seimbang berarti belajar menghadapi kesulitan, ketidakpastian, dan hal-hal yang tak terduga. Jika Anda bisa mencegah hal-hal yang terjadi memengaruhi diri Anda, Anda tidak saja belajar tentang cara hidup seimbang dan bebas stres, tapi juga belajar untuk menjalani dan menikmati setiap saat dalam hidup Anda. Begitu Anda telah mengatur segala hal yang berada di bawah kendali Anda, lihatlah hidup Anda terbentang dengan sendirinya. Persiapkan masa depan Anda—namun jangan sekali-sekali mengkhawatirkannya.


Kita memang tidak bisa mengantisipasi dan menentukan segala hal dalam hidup kita, namun kita bisa menentukan bagaimana, di mana, dan kapan kita harus mengonsentrasikan energi kita. Hal ini perlu pemikiran dan pengalaman pemecahan masalah, namun pada akhirnya akan menurunkan tingkat stres hidup kita dan membuat hidup kita lebih seimbang.


Tautan asli:

http://www.essentiallifeskills.net/wellbalancedlife.html

Gambar-gambar dari Google.